“Maastricht University” Perjalanan Menjemput Impian

 

Setiap orang memiliki impian untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, termasuk saya. Sebagai seorang staf pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Jambi, saya menyimpan mimpi untuk mengenyam pendidikan di Universitas ternama di luar negeri. Dengan bermodalkan kemampuan, semangat, keyakinan, usaha dan doa, akhirnya apa yang saya impikan akhirnya perlahan terwujud. Rabu, 25 September 2019 merupakan hari yang bersejarah bagi saya. Perjuangan saya akhirnya membuahkan hasil dalam mencari kesempatan melanjutkan pendidikan Strata 3 (S-3). Saya diterima sebagai penerima Beasiswa Program AKSI – ADB, kerjasama antara Asian Development Bank dan Universitas Jambi untuk program S-3 selama 4 tahun di Maastricht University.

Maastricht University, merupakan salah satu kampus ternama di Belanda. Terletak di kota Maastricht bagian selatan Belanda dan berbatasan langsung dengan Belgia dan Jerman. Bulan November 2019, saya mulai tercatat sebagai PhD Candidate di Department of International Health, Care and Public Health Research Institute, Faculty of Health, Medicine and Health Science, Maastricht University. Dibawah bimbingan 3 orang supervisor yang ahli di bidang international health, maternal health dan health ethics, saya harus berjuang

selama 4 tahun untuk menghasilkan beberapa artikel penelitian yang layak untuk dipublikasikan. Program PhD yang saya pilih adalah by Research, artinya selama 4 tahun saya akan bekerja di Department of International Health sebagai peneliti, tutor dan teaching assistant. Sistem pendidikan di Maastricht University, khususnya PhD by Research, menuntut saya untuk menjadi individu yang independent dalam segala hal, termasuk time-management, pencapaian target, dan beberapa hal yang berhubungan dengan program pendidikan.

Banyak jalan menuju “Maastricht”. Segala usaha dan jalan saya lakukan untuk dapat mengenyam pendidikan di Maastricht University. Saya berupaya untuk “menjual”proposal penelitian saya yang bertemakan Maternal Health kepada beberapa potential supervisor di beberapa Universitas. Alhamdulillah. Jalan yang saya tempuh membuahkan hasil karena salah satu supervisor saya di Maastricht University bersedia menjadi supervisor untuk penelitian saya. Tidak banyak supervisor bersedia untuk menerima international student, tetapi yang saya lakukan adalah bagaimana menunjukkan keseriusan dan kemampuan saya dalam menguasai isu penelitian kita, disamping kemampuan Bahasa asing dan pengalaman yang saya miliki. Hubungan yang baik antara student dan supervisor harus tercipta dengan baik dari awal. Saya merasa bahwa supervisor saya mampu menempatkan posisinya sebagai teman, ibu, dan rekan kerja. Hal ini yang harus dipertahankan sampai program saya selesai.

Well, saya yakin dan percaya, masih banyak teman-teman lain yang mampu untuk mewujudkan impiannya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas ternama di luar negeri. Universitas apapun di dunia ini, termasuk Indonesia, memiliki kekuatan masing-masing. Tetapi, satu yang membedakan adalah saya mendapatkan pengalaman hidup yang berharga selama hidup di Negara orang lain, terutama dalam hal toleransi, menjadi orang yang independent, budaya kerja, pengembangan soft-skill dan membangun jaringan ke sesama ahli di bidang Kesehatan Masyarakat.

Great things never come from comfort zones, so dream it, wish it and DO IT!

10 Desember 2019

Love from Maastricht

Oleh: Herwansyah, S.KM., M.P.H