Apa yang ada dipikiran kamu jika mendengar Suku Anak Dalam? Apakah kamu takut, aneh atau tidak mengerti harus bersikap seperti apa? Tenang kawan! Aku juga sempat mengalami hal seperti itu, apalagi dengan adanya stigma yang bermunculan di masyarakat, dimana Suku Anak Dalam itu tertutup, tabu untuk dibicarakan, dan kental dengan unsur mistis. Tapi tahukah kamu, bahwa semua yang kita dengar di lingkungan kita belum seratus persen benar? Aku mendapatkan hal yang baru ketika aku pertama kali berinteraksi dan bersosialisasi dengan kelompok Suku Anak Dalam ini.

Pertemuanku dengan Suku Anak Dalam terjadi dua kali saat aku masih kuliah di Fakultas  Kesehatan Masyarakat Universitas Jambi. Pertama, pada bulan Agustus 2018 saat melakukan pengabdian masyarakat khususnya pada kelompok Suku Anak Dalam di Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi. Kedua, pada tahun 2019 aku berkesempatan untuk kembali melakukan pengabdian masyarakat sekaligus melakukan penelitian Skripsi pada kelompok Suku Anak Dalam Kabupaten Batang Hari.

Lalu apa saja sih yang aku temukan saat pertemuan dengan kelompok Suku Anak Dalam tersebut?. Yang pertama menurut aku Suku Anak Dalam menginginkan bangku pendidikan. Kenapa? Karena di pertemuan pertamuanku dengan Suku Anak Dalam yaitu hal pertama yang diminta oleh anak – anak disana adalah sebuah buku dan alat tulis. “Buk guru, kami mau buku pena untuk menulis” kalimat yang membuat hati terketuk tidak bisa dilupakan dan akan terus diingat. Yang ada dipikiranku saat itu hanya perasaan malu karena mereka yang hidup di rimba sangat jauh dari pusat kota memiliki semangat yang tinggi untuk terus belajar sedangkan  kita yang sudah hidup layak mampu duduk di bangku pendidikan tapi masih sering bermalas – malasan untuk belajar.

Hal kedua yang aku tangkap adalah Suku Anak Dalam membutuhkan pelayanan kesehatan. Dari hasil interview aku dengan Pak Nyenong, salah satu kepala Suku Anak Dalam di Kabupaten Batanhari. Aku mewawancarai Pak Nyenong tentang pentingnya pelayanan kesehatan bagi Suku Anak Dalam? Lalu beliau menjawab itu sangat penting. Makanya Posko yang saat itu kami tempati saat berada di sana tujuan utama membangunnya adalah untuk Tenaga Kesehatan. Sangat besar harapan mereka untuk tenaga kesehatan untuk mau menetap di wilayah mereka. Karena dari wilayah mereka tinggal sangat jauh ke tempat pelayanan kesehatan, dan sudah ada beberapa kasus yang terlambat mendapatkan pertolongan sehingga meninggal ketika di perjalanan menuju Fasilitas Kesehatan. Menurut Kepala Suku Anak Dalam, mereka sangat membutuhkan pelayanan kesehatan karena mereka menyadari bahwa tidak sepenuhnya permasalahan kesehatan dapat mereka tangani hanya dengan cara mereka yaitu dengan memanfaatkan alam berupa tumbuhan yang ada di hutan dan membaca doa – doa (mantra). Mereka menyadari akan pentingnya ilmu kesehatan dan berharap Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jambi untuk terus melakukan kunjungan yang diupayakan setiap bulannya ke wilayah mereka sembari memberikan pendidikan kesehatan.

Hal selanjutnya yang ku dapatkan adalah Suku Anak Dalam perlu didata sebagai masyarakat Indonesia dan memerlukan Kartu Tanda Penduduk. Hal ini juga diinginkan oleh semua Kepala Suku dan Depati Suku Anak Dalam di Kabupaten Batanghari ketika di perbincangkan saat  malam keakraban setelah sosialisasi kesehatan dan nonton bersama.  Dalam contoh kecil dari hasil wawancaraku dengan petugas kesehatan yang bertanggung jawab di wilayah Suku Anak Dalam, mereka tidak dapat bertanggung jawab penuh terhadap kesehatan Suku Anak Dalam dikarenakan keberadaan mereka yang berpindah – pindah sehingga menyulitkan untuk didata dengan benar.

Begitulah tiga hal penting yang aku dapatkan saat pertemuanku dengan kelompok Suku Anak Dalam di Kabupaten Batanghari. Menurut aku hal seperti inilah yang dapat membuat kita semua mengerti bahwa begitu besar harapan saudara kita, Suku Anak Dalam merupakan rakyat Indonesia yang seharusnya juga mendapatkan hak yang sama yaitu merasakan bangku pendidikan, mendapatkan pelayanan kesehatan, serta terdata sebagai masyarakat Indonesia.

Pelajaran berharga yang aku dapatkan walaupun tanpa sinyal, tanpa penerangan, sulitnya air bersih dan terbatasnya makanan, tak memudarkan senyum di wajah mereka, tak mengurangi semangat untuk terus berjuang bergerak untuk hak dan persamaan, demi identitas diri di Indonesia. Jadi apa yang patut kita lakukan untuk perjuangan mereka? Kita bias mulai dari membantu menyebarkan kesadaran dan kepedulian akan Suku Anak Dalam, start caring for them, aktif dalam kegiatan yang membantu perkembangan mereka. Namun sadar saja tidak cukup, perlu aksi yang membuat perubahan.  Satu hal lagi yang dapat aku petik dari pertemuan ini bahwa bahagia itu sederhana ketika hal kecil yang kita lakukan dapat bermnfaat besar bagi orang lain.

So if you wanna make the world a better

Pleace, start make a change!

 

Oleh: Diana Lovita, Alumni FKM Unja